Jumat, 22 Juni 2012

Satu Tewas,Satu Rumah Dibakar



Terjadi di Kecamatan Margo Tabir
Bangko-Satu orang tewas, satu rumah dibakar massa. Kejadian saling kait mengait  ini, terjadi sekitar pukul 23.30 (21/6) kemarin malam di Kampung 1 Kecamatan Margo Tabir. Pasalnya satu warga tewas dengan luka tusukan, satu lagi luka berat (luber) akibat luka tusuk.
Dari data yang berhasil dihimpun koran ini dilapangan, kejadian yang sempat membuat geger Margo Tabir ini berawal dengan tewas Hendra Ananda (17) warga Sumber Agung Kecamatan Margo Tabir, dan  Budi Santoso (18)luka berat yang ditusuk sajam pada bagian punggung.
Pada malam kejadian naas, korban Hendra bersama empat temannya berangkat dari Kampung 7 menuju Kampung 1 guna menonton organ tunggal.         Saat,korban yang tengah asik nonton tiba tiba kebelet hendak buang air kecil.
Sehingga korban meminta empat temannya menemani ke belakang salah satu rumah warga yang tak jauh dari lokasi keramaian organ tunggal. Diduga dendam,
malang bagi korban Hendra saat buang air kecil, pelaku – terakhir diketahui Sutrisno -- tiba tiba datang dari arah belakang korban.
Tanpa banyak bicara pelaku, lantas menusukkan pisau tajam yang diduga telah dipersiapkannya ke leher korban Hendra. Sesaat sebelum terjadi penusukan, salah seorang saksi mata  yang ditemui Radar Sarko yang tidak ingin identitasnya disebut  sempat mendengar dari mulut pelaku kata kata umpatan. Setelah itu, barulah pelaku menusukkan pisau keleher korban.
‘’ Aku wes nekad iki,’’ ungkap pria berjenggot warga kampung 7 Margoyoso mengulang apa yang didengarnya.
          Sementara itu, rekan korban bernama Budi kaget mendengar teriakan  aungan kesakitan sehingga secara spontan menoleh ke arah pelaku dan berusaha membantu korban. ” Sayangnya, pelaku yang sudah kalap itu kembali beraksi, pelaku menusukkan pisau ke punggung korban Budi,” terang bapak berjenggot itu kembali
          Mendengar kedatangan warga yang berusaha menolong korban, pelaku Sutrisno melarikan diri menghindari kejaran warga. Selanjutnya kedua korban dilarikan ke Klinik Puji Simpang Jelita Margoyoso, diduga luka robek yang parah di leher korban Hendra sehingga nyawanya tak tertolong. Sedangkan nasib Budi sedikit lebih beruntung, dirinya selamat karena luka tusuk yang dialaminya jauh dari jantung.
Mendengar kabar tewasnya Hendra serta Budi yang mengalami luka tusuk, sekumpulan orang yang diduga ingin mengejar pelaku  bernama Sutrisno mendatangati rumah  Sutrisno. Namun, apa lacur tersangka Sutrisno tidak berhasil ditemui diduga kuat telah melarikan diri.  Warga yang emosi, tanpa diketahui siapa yang mengomandoi langsung membakar rumah orang tua Sutrisno hingga lulu lantak rata dengan tanah. 
Kepada Radar Sarko, Kapolres Merangin AKBP A Nanan Setio Utomo melalui Kapolsek Tabir AKP Ricki Tridharma membenarkan adanya kejadian pembunuhan serta pembakaran rumah tersebut. Hanya saja pelaku masih diburu –hingga berita ini diturunkan belum tertangkap-- Menurutnya hingga saat ini aparat masih belum mengetahui keberadaan pelaku pembunuhan.
‘’Sampai saat ini baru keterangan saksi kedua orang tua korban Budi yang kita mintai keterangan. Sementara keterangan dari orang tua korban Hendra yang tewas masih belum kita ambil, maklumlah, kedua orang tuanya msih shock berat,” ujar Ricki.
          Sedangkan dugaan motif terjadinya pembunuhan itu, masih belum diketahui pasti. Namun, kuat dugaan bermotif balas dendam ” Dugaanya karena dendam sejak lama, namun kita tunggu perkembangan selanjutnya,” ungkap Ricki        
           Terkait pembakaran rumah tersangka Sutrisno, diakui Ricki pihaknya terus mendalami kaitan pembakaran rumah pelaku dengan warga yang mencoba mencari pelaku  karena tidak terima tewasnya Hendra. ‘’ Kita terus dalami dan menggelar penyelidikan dan penyidikan atas kejadian itu,’’ ungkap Ricki (and)  


==========================================================

Bupati Datangi Rumah Korban dan Pelaku

            KEJADIAN pilu menimpa Hendra membuat Bupati Merangin Nalim, turun berbela sungkawa, sehingga  langsung ke rumah duka tempat kelurga Hendra. Nalim datang sekitar pukul 11.00 WIB (22/6) kemarin didampingi Camat Tabir Margo Budiman disambut langsung tua Wardi (48) dan Trini (35) orang tua korban dirumah duka.
            Kedatangannya ini tak lain guna memberi motivasi dan mengobati luka kedua orang tua korban atas kehilangan anak semata wayang. Dalam kesempatan tersebut, Ia mengharapkan agar pihak keluarga bisa menerima musibah yang menimpa dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak penegak hukum.
” Takdir tak dapat kita hindari. Jalan satu satunya ya dengan bersabar dan berserah diri kepada Allah,” ujarnya dihadapan kedua orang tua korban.
            Usai membaca tahlil dan memanjatkan doa untuk horban Hendra, tak lupa Nalim memberikan bantuan berupa uang tunai kepada pihak keluarga.” Saya berharap, semua pihak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan bertindak main hakim sendiri, percayalah semua musibah datangnya dari Allah, dan kita kembalikan kepad-Nya,” tukas Nalim.
            Setelah mendatangi rumah korban, Nalim kemudian bertolak ke Kampung 1, tempat kejadian perkara (TKP) tersebut terjadi. Ia juga menyempatkan diri mendatangi rumah orang tua pelaku yang ternyata sudah rata dengan tanah akibat diamuk massa yang tidak terima atas tewasnya  Hendra.(and)


========================================================================

Orang Tua Korban Pingsan Berkali Kali

        PENASARAN terhadap kondisi pasangan Wardi (48) dan Trini (35), orang tua  korban, Radar Sarko pun mencoba mendatangi rumah duka yang berada di Kampung 7 Desa Sumber Agung Kecamatan Margo Tabir sekitar pukul  09.00 (22/6) kemarin.
        Ratusan keluarga dan rekan korban memenuhi rumah duka yang terletak tak jauh dari jalan poros Margo Tabir tepatnya di samping Masjid Sumber Agung. Seorang pria bertubuh jangkung yang belakangan diketahui adalah Wardi, ayah korban tampak terus terpakur diam membisu.
Kondisi yang sama juga terlihat pada Trini, ibu korban. Bahkan Trini tampak lebih shock lagi, ia terlihat berkali kali pingsan jatuh dari duduknya tanpa menghiraukan lagi tamu yang datang ke rumahnya.
        Hanya sepatah dua patah kata saja yang keluar dari mulutnya. Itupun saat warga setempat melayat dan bersalaman dengan ayah korban.” Ya terimakasih,”  katanya singkat.
        Shock berlebihan yang ditunjukkan kedua orang tua korban Hendra dinilai wajar. Betapa tidak, Hendra merupakan anak semata wayang yang umurnya baru menginjak usia remaja. ” Dia anak satu satunya dari keluarga Pak Wardi,” ujar Sumardi, rekan korban.
        Sumardi menjelaskan, korban Hendra saat ini tercatat sebagai siswa kelas III di SMA Margoyoso.” Saya pun sempat tak percaya saat dikabarkan Hendra meninggal dunia. Setelah melihat dengan mata saya sendiri di Klinik Puji barulah saya percaya. Lemas semua tubuh saya,” terangnya.
        Hal senada juga dikatakan Bambang, melalui media ini dia meminta agar aparat Kepolisian bisa cepat mengungkap kasus pembunuhan yang menimpa Hendra.” Dimanapun saat ini pelaku berada kalau bisa menyerahkan diri lah ke kantor Polisi. Kita khawatir saja, takut terjadi hal yang tidak diinginkan,” tuntasnya.(and)